Turquerie: Saat Dimana Pengaruh Turki Ottoman Begitu Besar di Eropa

Alifmiqbal

Alifmiqbal

Content Writer

Turquerie, arsitektur sebuah kedai kopi di jerman
Gambar arsitektur sebuah kedai kopi di Leipzig, Jerman. Kedai kopi ini bernama “Zum Arabischen Coffe Baum”, menggambarkan seorang anak kecil yang memberikan secangkir kopi kepada seorang pria dengan pakaian khas Turki yang sedang duduk dibawah pohon. (Sumber: Wikipedia)

Turquerie – Dalam sejarahnya, Kesultanan Turki Ottoman dikenal sebagai salah satu peradaban terbesar di dunia dengan pengaruhnya yang juga begitu besar bagi kawasan Timur Tengah, Eropa dan juga dunia Islam. Berawal dari penaklukan ibukota Kekaisaran Byzantium, Konstantinopel yang kemudian berubah nama menjadi Istanbul, membuat Kesultanan Turki Ottoman mulai menanamkan superioritas politik dan juga menanamkan pengaruhnya lainnya dalam banyak bidang, seperti bidang budaya dan seni.

Pada saat dipimpin oleh Sultan Sulaiman I (Sulaiman Agung), Kesultanan Ottoman berhasil mencapai era keemasannya, dengan berbagai kemajuan dalam bidang budaya, seni, militer hingga ilmu pengetahuan yang juga dibarengi dengan berbagai penaklukan terhadap beberapa wilayah di Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara. Kejayaan Kesultanan Ottoman menarik perhatian bangsa Eropa yang juga menimbulkan rasa ingin tahu bagi mereka yang menimbulkan lahirnya gerakan Turquerie pada abad ke-16 di Paris, Prancis.

Gerakan Turquerie mencapai puncaknya pada abad 18 yang banyak dipengaruhi dari kunjungan para duta besar Turki di Istana raja-raja Eropa. Gerakan ini, pada ahirnya berhasil memunculkan fenomena budaya ‘Turquerie’ yang mempengaruhi banyak bidang di Eropa seperti, Fashion, sastra, musik, seni lukis, seni arsitektur, hingga kuliner.

Beberapa hal yang terlihat sangat dipengaruhi dalam gerakan Turquerie diantaranya adalah, makanan Turki, pipa air taman, pipa tembakau, pemandian Turki, handuk, saputangan, turban, syal, delima, motif tulip, serbat (minuman manis) yang masih disebut orang Eropa. sebagai ” sorbet ” hari ini, sofa, divan, klip dan kepala sabuk perak, pembuatan potret miniatur, keramik Nicea, kios dan air mancur bergaya Ottoman, karya seni Edirne, motif bunga oriental dalam bahan sutra dari Bursa, dan dekorasi marmer.

Baca Juga  Asal-Usul Terbentuknya Partai Politik

Kopi dan rempah-rempah menjadi item lainnya yang memberikan pengaruh bagi gerakan Turquerie di Eropa. Letak Istanbul yang cukup strategi dalam rute perdagangan jalur sutra menjadi alasannya. Bahkan dalam beberapa literatur, budaya minum kopi di Eropa baru mulai dikenal pada abad ke-16 karena pengaruh Kesultanan Turki Ottoman dan orang-orang Turki yang tersebar di beberapa wilayah Eropa.

Berawal dari Prancis

Duta Besar Prancis untuk Turki, Charles Gravier de Vergennes menggunakan pakaian khas Utsmani, dilukis oleh Antoine de Favray pada tahun 1766. (Sumber: Daily Sabah)

Pada abad ke-16, Kesultanan Ottoman mulai menjalin hubungan baik dengan Perancis dalam beberapa bidang khususnya di bidang ekonomi dan politik. Citra Turki Ottoman sering muncul pada abad ini, terutama pada saat diadakannya latihan bersama antara angkatan laut Turki-Prancis antara tahun 1551 dan 1555 di Laut Mediterania.

Pada periode ini juga, para penulis/penyair Prancis mulai mempelajari mengenai konsep militer dan agama Turki. Tentunya, Turki dalam tulisan mereka selalu diidentikan dengan “Muslim” dan “Ottoman”. Selain itu, para penulis ini juga menggambarkan bahwa Turki Ottoman sebagai sumber teror yang perlu diwaspadai oleh para pejuang mereka.

Perlahan dengan mundurnya pasukan Kesultanan Ottoman pada perang di Wina, Austria tahun 1683, menjadi titik balik rasa ketakutan yang lama terhadap Turki Ottomanberganti menjadi rasa ingin tahu. Pada akhir abad ke-17, rasa ingin tahu yang diilhami orang Turki di kalangan bangsawan Eropa mulai meningkat. Banyak karya seni mulai bermunculan sejalan dengan tren ini. Gambar dan konsep yang awalnya dibuat untuk menanamkan rasa takut berubah menjadi fantasi yang dapat memenuhi keingintahuan kaum bangsawan. Penggambaran yang berlebihan dan imajinatif tentang istana Utsmaniyah dan kehidupan kenegaraannya menjadi sangat populer. Pelukis seperti Joseph Parrocel, Henri Fantin-Latour, Charles-Nicolas Cochin, Nicolas Lancret, dan Charles-André van Loo menghasilkan banyak karya Orientalis mengenai ini, meski belum pernah menginjakkan kaki di tanah Kesultanan Ottoman.

Baca Juga  Pengertian Partai Politik Beserta Definisi Partai Politik

Seiring dengan berkurangnya konflik dan meningkatnya kunjungan wisatawan dan utusan antar negara, tren “Turquerie” mulai bermunculan di banyak bidang seni dan budaya, dari sastra hingga lukisan.

Awal kebangkitan era puncak gerakan Turquerie di Eropa adalah kedatangan Duta Besar Kesultanan Ottoman, Mehmed Çelebi, yang dikenal dengan julukan “Yirmisekiz” (atau “Dua Puluh Delapan” dalam bahasa Turki), ke Prancis pada tahun 1721. Periode inilah yang Sejarawan Turki Ottoman menyebutnya sebagai “Era Tulip” yang menandai era puncak kebangkitan dalam bidang seni dan budaya di Kesultanan Ottoman. Kunjungan Mehmed Çelebi beserta rombongannya ke Paris menjadi awal gebrakan pengaruh fashion ala Turki di Eropa pada era tulip ini.

Potret dari Mehmed Said Efendi yang dilukis oleh pelukis Prancis Joseph Aved di Paris pada tahun 1741. (Sumber: Daily Sabah)

Duta Besar Mehmed Said Efendi, yang mengunjungi Paris pada 1741, juga dikagumi. Dia muncul di hadapan Raja Prancis Louis XV, yang dikenal sebagai Louis yang Tercinta, di Versailles. Charles-Nicolas Cochin, salah satu calon pelukis istana pada waktu itu, diperintahkan untuk merekam upacara penyambutan yang penting ini. Pakaian bangsawan Eropa dan pengunjung lain di depan upacara mirip dengan pakaian tradisional Ottoman. Surat-surat kabar Paris menampilkan kunjungan para duta besar Turki tersebut ke dalam berita utama mereka selama berhari-hari. Setelah kunjungan tersebut, tokoh-tokoh yang mengenakan pakaian tradisional Timur Tengah khas Turki seperti sorban dan shalwar mulai memasuki karya sastra, lukisan, tokoh keramik, dan adegan teater.

Sebagai contohnya, pertunjukan seni balet komedi Perancis yaitu, “The Bourgeois Gentleman“, menampilkan para aktor-aktor yang mengenakan pakaian gaya Turki dalam pertunjukan mereka diatas panggung. Para bangsawan yang datang ke pesta dansa dengan pakaian Turki selama periode ini sangat disukai karena dianggap sebagai tren fashion kala itu. Selain itu, para wanita bangsawan juga menggambar potret lukisan mereka dengan pakaian bergaya Turki dan memajangnya di sudut-sudut paling populer di rumah mereka.

Baca Juga  Damnatio Memoriae: Cara Bangsa Romawi Menghapus Jejak Hidup Seseorang dari Masyarakat

Alla Turca

Orang-orang Eropa, yang semakin tertarik untuk mempelajari Turki dalam banyak aspek kehidupan mereka, juga tertarik dalam bidang musik. Band militer Ottoman yang paling menarik perhatian pada awalnya adalah marching band, “Mehters.” Suara terompet yang menggetarkan hati dari band Mehter semakin memupuk citra menakutkan orang Turki itu. Suasana megah dan epik yang pernah dibawakan bserta teriakan perang mereka, juga menimbulkan rasa kagum bagi orang-orang Eropa.

Abad ke-18 adalah era dimana musik banyak terdapat perubahan di Eropa. Sebagai hasil dari Turquerie, musik Turki mendapat studi serius dalam hal ini, membuka jalan bagi Prusia, Rusia dan Polandia untuk membuat marching band serupa. Beberapa bukti pengaruh Turki muncul dalam bentuk musik “Alla Turca”. Opera yang diilhami Turki mulai ditulis dalam jumlah besar. Wolfgang Amadeus Mozart sendiri memberi judul Piano Sonata No. 11-nya, “Alla Turca,” yang meniru suara band-band ala Janissari Turki.

Pengaruh Turki dalam kehidupan sosial orang-orang Eropa (Turquerie), pada awalnya, muncul dari rasa takut dan berkembang menjadi rasa ingin tahu yang berakhir pada rasa kagum dan upaya untuk meniru. Turquerie, berangsur-angsur pamornya mulai menurun setelah munculnya revolusi Perancis dan menghilang sepenuhnya setelah jatuhnya Kesultanan Turki Ottoman.

Share this article

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply