Sepakbola dan Politik Turki di Bawah Pemerintahan Erdogan

Alifmiqbal

Alifmiqbal

Content Writer

Sepakbola dan Politik Turki, Erdogan
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengontrol bola dalam suatu pertandingan eksibisi di Stadion Basaksehir, Istanbul (AFP/OZAN KOSE)

Sepakbola dan Politik – Semenjak terpilih sebagai Perdana Menteri Turki pada 2002 lalu, banyak yang memprediksi bahwa Presiden Turki saat ini, Recep Tayyip Erdogan akan meningkatkan pengaruh pemerintah dalam bidang sepakbola. Hal ini cukup beralasan, dikarenakan Erdogan memiliki riwayat sebagai mantan pesepakbola amatir yang sangat menggemari sepakbola.

Seiring berjalannya waktu, keterkaitan antara pemerintahan Erdogan, kebijakan politik, dan sepakbola semakin banyak dikaitkan. Sejak 2002, Erdogan dan AKP sebagai partai penguasa menggunakan pengaruh mereka di pemerintahan melalui intervensi secara langsung atau tidak langsung untuk meningkatkan dan mempertahankan pengaruh politik mereka melalui sepakbola sebagai olahraga paling digemari oleh rakyat Turki.

Masyarakat Turki sudah mengenal sepakbola modern semenjak Kekaisaran Ottoman masih berkuasa pada 1875 dan diperkenalkan oleh orang Inggris yang bermukim disana. Tercatat, liga sepakbola Turki sudah mulai bergulir sejak tahun 1904 dengan nama “Liga Sepakbola Konstantinopel”. Beberapa tim yang berpartisipasi dalam liga tersebut adalah, Kadıköy FC, Moda FC, Elpis, İmojen. Beberapa tim tersebut dibentuk oleh masyarakat Inggris, Armenia, dan Yunani yang bermukim disana. Kemudian, Galatasaray SK, Fenerbahçe SK, Rumblers, Progres(Altınordu), Telefoncular SK yang menggunakan pemain Turki mulai meramaikan liga. Dengan sejarah yang panjang tersebut, tidak mengherankan jika sepakbola sangat populer disana.

Undang-Undang Anti Kekerasan & Sistem Tiket

Sepakbola dan Politik Turki, sistem tiket
Sistem tiket elektronik bagi penonton di Liga Turki (worldsoccertalk.com)

Keterlibatan pemerintahan Erdogan dalam bidang sepakbola di Turki, mulai nampak pada tahun 2010 pada saat referendum amandemen konstitusi di negara tersebut. Dengan adanya amandemen konstitusi, membuat terpangkasnya pengaruh militer yang dianggap sebagai tulang punggung sekulerisme Turki dan membuat parlemen dan pemerintahan yang berkuasa memiliki pengaruh yang lebih luas dibanding sebelumnya. Ini menjadi awal dimulainya dominasi AKP sebagai partai penguasa untuk memberikan pengaruhnya di berbagai bidang salah satunya di sepakbola.

Pada April 2011, pemerintah Turki mengesahkan undang-undang 6222 yaitu, undang-undang mengenai pencegahan kekerasan dalam olahraga yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan di kalangan suporter sepakbola. Isi dari UU tersebut, mewajibkan dibentuknya suatu lembaga yang bernama “Dewan Keamanan Olahraga” yang memiliki tugas untuk memantau stadion, tempat pertemuan suporter, tempat latihan klub hingga beberapa atribut seperti flares dan spanduk yang dianggap ofensif. Banyak suporter yang menganggap hadirnya UU ini justru lebih membuat hadirnya tekanan terhadap publik khususnya bagi suporter sepakbola dibanding penghentian kekerasan antar suporter.

Pada tahun 2019, terdapat pembaruan besar-besaran dalam UU ini, yang mendapatkan lebih banyak protes di kalangan suporter sepakbola Turki dibanding sebelumnya. Beberapa pembaruan seperti, sanksi larangan tanpa penonton lebih lama, tanggung jawab kemanan stadion diserahkan polisi sepenuhnya daripada perusahaan keamanan swasta, dan penghinaan di media sosial terhadap suporter, wasit dan pemain akan berada di dalam pengawasan hukum. Dimasukannya kontrol terhadap sosial media dalam revisi UU ini, memancing protes di kalangan suporter yang menganggap bahwa media sosial harus menjadi platform di mana setiap penggemar memiliki hak untuk mendukung keyakinan mereka. Banyak suporter yang menyematkan nomor 6222 dalam username twitter mereka dan juga menyematkan nomor 6222 pada saat mengkritik wasit dan pemain melalui tweet mereka.

Baca Juga  5 Tokoh Penting Pembebas Amerika Latin dari Penjajahan Spanyol

UU 6222 bukan satu-satunya upaya pemerintahan Erdogan untuk meningkatkan kontrol mereka terhadap para suporter sepakbola. Federasi Sepakbola Turki bekerjasama dengan AktifBank, sebuah bank yang dimiliki oleh pengusaha pro-Erdogan Ahmet Calik, mulai menggunakan sistem tiket elektronik berbasis kartu online pada 2014 lalu, sebagai persyaratan bagi para suporter yang ingin menonton langsung di stadion. Sistem ini dinamakan sebagai sistem passolig.

Dalam sistem ini, para suporter diwajibkan untuk memberikan informasi pribadi mereka secara terperinci (termasuk status keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, dll.) serta foto pribadi mereka dan para suporter juga perlu membayar tidak hanya untuk tiket, tetapi juga untuk kartu Passolig ke bank. Sistem ini juga memperkenalkan kamera keamanan berteknologi tinggi di beberapa sudut stadion untuk mendeteksi wajah masing-masing suporter dan ID identitas mereka pada saat akan memasuki stadion.

Sistem ini juga dikritik oleh para suporter yang menganggap bahwa keberadaan passolig sebagai upaya lain dari pemerintah Turki untuk mengontrol dan memantau para suporter. Para suporter khawatir, sistem ini akan memasukkan mereka ke dalam daftar hitam oleh pemerintah hanya karena adanya upaya kritik dan penentangan terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, jika diasumsikan jumlah penonton tahunan di stadion mencapai satu juta dengan menggunakan kartu passolig dan katakanlah satu kartu harganya hampir $15 sehingga Aktifbank akan menghasilkan lebih dari $15 juta setahun hanya dengan memantau dan menjual tiket online.

Gerakan Protes Taman Gezi

Sepakbola dan politik, protes taman gezi
Gerakan protes di Taman Gezi (Mstyslav Chernov/Wikipedia)

Gerakan protes di Taman Gezi menjadi sejarah penting bagaimana sepakbola dan politik di Turki saling memiliki kaitan, khususnya pada masa pemerintahan Erdogan. Tanggal 27 Mei, 2013 menjadi awal gelombang protes terbesar dalam sejarah Turki modern tersebut. Dimulai dari perlawanan sekelompok aktivis lingkungan yang memprotes proyek Kota Metropolitan Istanbul yang akan menghancurkan Taman Gezi, satu dari sedikit ruang terbuka hijau yang ada di Istanbul. Protes ini berubah menjadi gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar hanya dalam hitungan beberapa hari.

Gerakan protes akan perlindungan Taman Gezi merembet ke berbagai tuntutan lainnya. Diantaranya adalah, tuntutan akan hak dan kebebasan individu; tuntutan kesetaraan berdasarkan, etnis, agama, dan gender; tuntutan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan; dan perlindungan lingkungan dan ruang kota.

Salah satu hal unik yang tak terduga dalam gerakan protes di Taman Gezi adalah bersatunya ketiga suporter klub ‘Big Three’ yaitu, Galatasaray, Fenerbache dan Besiktas yang merupakan tiga klub sepakbola terbesar di Turki yang dikenal memiliki basis masa terbesar. Karena rivalitas yang tinggi antara ketiga klub tersebut, banyak yang menganggap bahwa mereka tidak akan pernah bersatu. Mereka membentuk koalisi dan menamakannya sebagai ‘Istanbul United’. Selama gelombang protes berlangsung, sepakbola menjadi lebih politis dari sebelumnya. Kelompok penggemar sepak bola, yang terbiasa bentrok dengan polisi anti huru hara, secara kolektif terlibat dalam protes anti-pemerintah dan mengorganisir barikade untuk memblokir polisi anti huru hara dalam upaya berkontribusi pada perlawanan. Mereka bersatu melawan musuh bersama – Perdana Menteri Erdogan dan AKP partai yang berkuasa.

Dağhan Irak dalam bukunya yang berjudul “Football Fandom, Protest and Democracy: Supporter Activism in Turkey”. Menyebutkan, melalui analisis yang berdasarkan pesan-pesan yang disampaikan oleh para suporter di twitter, para suporter yang sebelumnya saling bergesekan karena rivalitas antar klub mereka menjadi bersatu. Hal ini dikarenakan, serangan pemerintah terhadap “habitus kelas menengah sekuler perkotaan” di Istanbul yang memungkinkan terjadinya koalisi antar mereka.

Proyek Klub Pro-pemerintah

Sepakbola dan politik, erdogan
Erdogan, menerima jersey klub Istanbul Basaksehir (Reuters/Cetinmuhurdar)

Pemerintah Erdogan tidak hanya melakukan intervensi dalam hal pembatasan dan hak kebebasan para suporter sepakbola di negara tersebut. Namun juga dengan mendukung klub yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah. Tercatat, terdapat tiga klub swasta yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah selama sedekade terakhir yang diberi julukan sebagai klub “proyek” oleh suporter setempat.

Pertama adalah Kasimpasa, klub yang berasal dari tempat kelahiran Erdogan di lingkungan kelas pekerja Kasimpasa, Istanbul. Klub ini bermarkas di Stadion Recep Tayyip Erdoğan dan pada tahun dan pada tahun 2012, klub ini dibeli oleh pengusaha miliarder Turgay Ciner yang memiliki hubungan dekat dengan Erdogan. Sejak 2012, Kasimpasa telah menjadi klub yang selalu berada di divisi utama Liga Super Turki dan tidak pernah mendekati degradasi.

Baca Juga  Asal-Usul Terbentuknya Partai Politik

Setelah “Proyek Kasimpasa”, pemerintah Erdogan mulai mendukung Osmanlispor klub yang berasal dari ibukota Turki, Ankara. Klub tersebut dimiliki oleh Osman Gokcek, putra mantan Wali Kota Ankara Melih Gokcek. Nama tim Osmanlispor sendiri, dapat diartikan menjadi “Ottoman Sport Club” dan stadion mereka dirancang seperti kastil Ottoman. Sesuai dengan proyek “Neo-Ottomanisme” dari pemerintahan Erdogan. Namun karena Melih Gokcek kehilangan dukungan Erdogan dan dicopot dari jabatannya sebagai walikota Ankara pada tahun 2017, Osmanlispor terdegradasi ke dari Liga Super Turki setahun setelahnya.

Istanbul Basaksehir adalah klub terbesar yang memiliki kaitan erat dengan pemerintahan Erdogan. Klub ini awalnya dimiliki oleh pemerintah kota Istanbul dengan nama Istanbul Buyuksehir Belediye dan selalu tampil reguler di divisi utama Liga Super Turki. Namun, pada tahun 2014 klub ini diprivatisasi dengan dibeli oleh sekelompok investor yang dipimpin oleh Goksel Gumusdag, keponakan Ibu Negara Turki, Emine Erdogan. Pembelian ini membuat markas klub berpindah ke daerah Basaksehir dan berganti nama menjadi Istanbul Basaksehir.

Pada saat peresmian stadion baru Istanbul Basaksehir di tahun yang sama dengan privatisasi klub tersebut, Erdogan hadir langsung dalam sebuah laga eksibisi dan mencetak hattrick atau tigal gol, sekaligus memperlihatkan kelihaian dirinya sebagai mantan pesepakbola amatir.

Erdogan & Para Pesepakbola Terkenal

Sepakbola dan Politik, Ozil, Gundogan, Erdogan
Mesut Ozil dan Ilkay Gundogan berfoto bersama Erdogan. (Reuters)

Public Figure seperti, selebriti, bintang televisi, hingga atlet olahraga telah menjadi elemen penting dalam perkembangan polarisasi politik Turki di bawah pemerintahan Erdogan. Khususnya setelah percobaan kudeta gagal tahun 2016, para selebriti seringkali mengungkapkan dukungannya ke publik untuk mendukung Erdogan. Acara sosial Presiden, seringkali menampilkan para selebritas yang berfoto bersama dengan Erdogan beserta keluarganya.
Dalam bidang olahraga, penggunaan atlet sebagai upaya meningkatkan popularitas Erdogan cukup sering terjadi, khususnya dalam sepakbola. Sebelum pemungutan suara dalam referendum konstitusi 2017 yang mengubah sistem pemerintahan Turki dari parlementer menjadi presidensial yang sekaligus memberikan kekuasan lebih untuk Erdogan menjadi presiden eksekutif. Mantan legenda sepakbola tim nasional Turki, Rıdvan Dilmen bersama dengan pemain tim nasional Turki yang masih aktif, Arda Turan dan Burak Yılmaz aktif berpartisipasi dalam kampanye “ya” yang dapat diartikan sebagai dukungannya untuk perubahan amandemen konstitusi.
Selain itu, sebelum pemilihan umum 2018, Erdogan juga melakukan pertemuan dengan pemain tim nasional Turki, Cenk Tosun dan pemain tim nasional Jerman keturunan Turki, Mesut Ozil dan Ilkay Gundogan, sebagai bagian dalam kampanye pemilihannya. Pertemuan ini menimbulkan reaksi negatif dari publik Jerman karena terjadi sebelum berlangsungnya Piala Dunia Rusia 2018 dan juga pada saat ketika Erdogan memenjarakan jurnalis asal Jerman. Kunjungan ini juga menjadi dalih bagi kelompok ekstrim sayap kanan Jerman untuk melakukan tindakan rasisme terhadap kedua pemain ini yang membuat, Ozil akhirnya memutuskan pensiun dari Timnas Jerman.

Penggunaan sepakbola sebagai alat politik bisa menjadi strategi ampuh bagi negara dengan antusiasme yang tinggi terhadap sepakbola. Namun, jika dilakukan secara kentara dan digunakan hanya sebagai alat politik praktis, justru akan menimbulkan polarisasi antar suporter. Upaya pemerintahan Erdogan untuk mengontrol para suporter pembangkang melalui sistem passolig dan pengawasan polisi, secara singkat membuat popularitas sepakbola menurun dengan berkurangnya jumlah penonton di stadion dan membuat hubungan suporter dengan pemerintah menjadi tegang. Selain itu, penggunaan klub “proyek” seperti Istanbul Basaksehir, juga belum sepenuhnya berhasil karena klub tersebut tidak memiliki basis masa fanatik yang cukup besar, namun bisa dibentuk melalui proyek jangka panjang.
Menarik untuk disimak, bagaimana upaya dan strategi selanjutnya dari pemerintahan Erdogan dan AKP untuk mempertahankan hagemoni politik mereka melalui sepakbola sebagai olahraga yang paling digemari oleh masyarakat Turki.

*Catatan: Artikel ini adalah kumpulan dari berbagai referensi yang sudah penulis sertakan di dalam tulisan, jika terdapat kesalahan kutipan dan terjemahan dari sumber artikel asli, mohon kritik & sarannya. Untuk pembahasan lebih detail anda bisa membaca artikel ini:

Football in Turkey during the Erdoğan regime: Soccer & Society: Vol 21, No 6 (tandfonline.com)

Share this article

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply