Pengertian dan Definisi Cyborg, Si Manusia Setengah Robot

Alifmiqbal

Alifmiqbal

Content Writer

Illustrasi Cyborg
Ilustrasi Cyborg (Sumber: Unsplash)

Bagi Anda yang pernah melihat cerita-cerita dengan genre fiksi ilmiah baik itu di buku, film hingga serial televisi mungkin tidak asing dengan tokoh perwujudan manusia setengah robot yang diciptakan melalui teknologi canggih buatan manusia. Tokoh tesebut dinamakan sebagai cyborg.

Lalu, apa itu cyborg? mengutip dari laman techopedia, cyborg merupakan kepanjangan dari istilah cybernetic organism (organisme sibernetik) yang dapat diartikan sebagai organisme dengan perpaduan antara komponen biologi dan teknologi atau bisa dibilang sebagai manusia setengah robot. Istilah ini, pertama kali muncul pada saat terjadinya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet pada tahun 1960 dalam konteks perlombaan ruang angkasa antara kedua kekuatan besar tersebut.

Definisi & Lingkup Cyborg

Cyborg & smartphone
Ilustrasi manusia dan smartphone (Sumber: unsplash)

Dalam beberapa definisi, cyborg digambarkan sebagai sosok fiksi atau sosok yang masih diperdebatkan penciptaannya dengan beberapa teori dan hipotesisNamun, dalam pengertian lainnya, secara teknis dengan perkembangan teknologi saat ini, manusia dapat dikategorikan sebagai cyborg, jika melihat perangkat teknologi yang tidak dipisahkan dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Lingkup penggunaan istilah cyborg, meliputi dari bagaimana sudut pandang penggunaan teknologi oleh manusia dan juga interaksi antara perangkat teknologi dengan manusia. Seseorang dapat dikatakan sebagai cyborg ketika mereka menggunakan implan buatan untuk tubuhnyaBahkan, dengan penggunaan perangkat lunak dan perangkat keras yang akrab dan tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia saat ini, bisa dikatakan manusia saat ini masuk sebagai kategori cyborg. Coba bayangkan betapa susahnya hidup saat ini tanpa bantuan perangkat seperti smartphone? berbelanja, membayar tagihan, menggunakan transportasi, berkomunikasi hingga mencari lokasi tujuan dengan fitur maps, adalah sebagian aktivitas harian yang dapat digunakan dengan bantuan smartphone.

Cybrog & Tokoh Fiksi Ilmiah

Cyborg, The six million dollar man
Poster film The Six Million Dollar Man (Sumber: Wikipedia)

 

Baca Juga  7 Rekomendasi Drakor 2021 Terbaik Berdasarkan Rating IMDb

Tokoh manusia setengah robot (cyborg) seringkali masuk ke dalam cerita dengan genre fiksi ilmiah dengan digambarkan sebagai seorang manusia dengan kekuatan super. Misalnya, sebuah novel karya Martin Caidin (1972) yang menceritakan seorang astronot yang bernama Steve Austin mengalami kecelakaan dan dengan bantuan teknologi canggih, ia berhasil diselamatkan dengan merekontruksi tubuhnya oleh pemerintah dengan biaya $ 6.000.000.000. Hasilnya, ia mendapatkan kekuatan super dan bekerja sebagai agen rahasia pemerintah. Novel ini selanjutnya diadaptasi sebagai serial televisi populer, dengan judul “The Six Million Dollar Man” (1973–1978).

Dalam beberapa karya fiksi ilmiah lainnya, tokoh manusia setengah robot ini juga digambarkan sisi gelapnya, seperti efek teknologi yang mengancam dan tidak manusiawi. Film seperti RoboCop (1987) dan trilogi Star Wars pertama (1977, 1980, 1983) memiliki karakter utama yang didominasi dengan mesin  dan membuat sisi kemanusiannya dipadamkan. Di RoboCop, seorang perwira polisi diceritakan mengalami kecelakaan dan terluka parah. Selanjutnya, ia direkontruksi ulang bagian tubuhnya untuk menjadi manusia setengah robot dan pada akhirnya ia berusaha keras untuk mengembalikan kenangan masa lalunya. Sedangkan dalam trilogi Star Wars, kepala penegak kaisar galaksi, Darth Vader, adalah seorang manusia setengah robot  yang memiliki tujuan untuk memperbudak penghuni galaksi di bawah kekuasaan kaisar.

Elon Musk: Kita (Manusia) Saat Ini adalah Seorang Cyborg

Dalam sebuah konferensi dengan judul “Superintelligence: Science or Fiction?” yang membahas mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan diselenggarakan oleh Future of Life Institute sebuah organisasi yang mempromosikan tentang “visi masa depan yang optimis”. Konferensi ini mengundang para tokoh-tokoh dengan latar belakang pemimpin perusahaan teknologi, ilmuan dan futuris. Salah seorang tokoh yang hadir dalam konferensi ini adalah Elon Musk, CEO Tesla dan perusahaan teknologi lainnya.

Baca Juga  5 Rekomendasi Game PC Tentang Simulasi Politik

Dalam pandangan Elon Musk, teknologi kecerdasan buatan bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Apalagi sampai berpikir bahwa teknologi tersebut dapat melampaui kecerdasan manusia dan menciptakan kehancuran. Ia berpendapat bahwa perkembangan teknologi tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan karena tidak terelakkan dan bahaya yang akan terjadi dapat diantisipasi melalui regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Selain itu, dalam pandangannya mengenai ketakutan manusia akan perubahan teknologi di masa depan sebagian besar tidak relevan. Menurutnya, kita saat ini sudah menjadi cyborg dengan memanfaatkan “ekstensi mesin” dalam menunjang kehidupan kita sehari-hari seperti penggunaan perangkat telepon dan komputer.

Sejauh ini, Anda (manusia saat ini) memiliki jauh lebih banyak kekuatan, kemampuan daripada yang dimiliki oleh Presiden AS 30 tahun yang lalu. Jika Anda dapat terhubung dengan internet, Anda dapat menggunakannya dengan bijaksana, seperti berkomunikasi dengan jutaan orang. Anda juga dapat berkomunikasi dengan seluruh belahan bumi secara instan. Maksudku, ini adalah suatu kekuatan magis yang belum lama ini hadir. Jadi, manusia saat ini sudah memiliki kekuatan super dan seorang cyborg. – Elon Musk [menit 33:56].

Pada akhirnya, dengan perkembangan teknologi yang pesat, generasi manusia saat ini bisa dibilang sebagai generasi pertama cyborg. Banyak aktivitas aktivitas manusia saat ini yang tidak terpisahkan dengan perangkat teknologi seperti smartphone. Bahkan bisa dibilang bahwa smartphone milik kita saat ini adalah perpanjangan dari diri kita ataupun tubuh kita saking pentingnya perangkat tersebut bagi hidup kita saat ini.

Selain itu, perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan karena hal tersebut adalah keniscayaan. Peradaban manusia perlu berkembang untuk beradaptasi dengan hal apapun di masa depan. Namun, perkembangan teknologi perlu juga dibatasi dengan regulasi agar tidak memiliki dampak yang merusak.

Share this article

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply