Damnatio Memoriae: Cara Bangsa Romawi Menghapus Jejak Hidup Seseorang dari Masyarakat

Alifmiqbal

Alifmiqbal

Content Writer

The severan tondo, sekitar tahun 199 M, terdapat wajah dari Septimius Severus, Julia Domna, dan kedua anak mereka Caracalla dan Geta. Wajah Geta telah dihapus oleh saudaranya Caracalla sebagai akibat dari damnatio memoriae yang dilakukannya setelah kematian Geta. (Sumber: Wikipedia)

Sebagai salah satu bangsa terbesar dalam sejarah peradaban dunia, bangsa Romawi memiliki banyak catatan sejarah yang menjelaskan secara detail bagaimana sistem masyarakat mereka, siapa pemimpin politik mereka, bagaimana sistem pemerintahan yang dianut dan catatan lainnya yang menggambarkan bagaimana kondisi kehidupan mereka di masa lalu.
Berbicara mengenai sejarah Romawi, ada satu praktik yang digunakan oleh mereka untuk menghukum para penghianat atau individu-individu yang dianggap mempermalukan kekaisaran. Praktik ini, dikenal sebagai dalam frasa latin sebagai “damnatio memoriae” yang memiliki arti “pengutukan memori” yaitu, individu tersebut akan dihilangkan dari ingatan masyarakat.

Sasaran & Pelaksanaannya

Damnatio Memoriae
Caracalla (188-217), salah satu kaisar Romawi (Sumber: Britannica)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumya, bahwa target dari praktik damnatio memoriae ini adalah individu yang dianggap berkhianat dan tidak disukai tingkah lakunya oleh para senat ataupun kaisar Romawi yang berkuasa. Pelaksanaannya dapat berupa, menyita harta beda, menghilangkan jejak dengan menghancurkan dan menyamarkan patung atau koin yang menggambarkan individu tersebut, hingga menghapus catatan literatur individu tersebut.
Karena praktik penghapusan tersebut, para sejarawan ataupun arkeolog terkadang tidak dapat memastikan kapan saja praktik damnatio memoriae ini terjadi.

Dalam konteks sosial masyarakat Romawi yang menekankan penampilan, kehormatan, dan kebanggaan civis romanus (hak kewarganegaraan Romawi). Menghilangkan semua jejak hidup seseorang dari masyarakat sehingga seolah-olah orang tersebut tidak pernah hidup di dunia adalah hukuman yang paling berat dan kejam untuk seorang individu yang menerimanya.

Ada banyak contoh praktik damnatio memoriae dalam sejarah Republik dan Kekaisaran Romawi. Misalnya, Kaisar Konstantinus (306–337 M) saat berkuasa menghilangkan sejarah sebanyak 26 kaisar; sebaliknya, sebanyak 25 kaisar justru didewakan setelah kematian mereka. Caligula (12-41) adalah contoh lainnya, dia dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam saat memimpin. Saat dia dibunuh pada tahun 41 M, penggantinya, Claudius berupaya untuk menghapus riwayat hidup keponakannya dari sejarah. Keputusan Claudius ini banyak dipengaruhi oleh opini publik, hal ini membuktikan bahwa opini publik juga berperan dalam menentukan siapa yang akan menjadi target hukuman damnatio memoriae.

Kisah yang paling terkenal dalam damnatio memoriae adalah kisah Septimius Geta (189-211 M) yang terpampang jelas dalam sebuah lukisan yang bernama the severan tondo. Lukisan ini dengan jelas menggambarkan Septimius Severus (145-211 M), istrinya dan Caracalla (188-217 M) sebagai potret keluarga yang tersenyum, sementara anaknya yang lain yaitu, Septimius Geta gambarnya telah disamarkan.

Baca Juga  Turquerie: Saat Dimana Pengaruh Turki Ottoman Begitu Besar di Eropa

Dalam kisah ini, Septimius Geta terbunuh dalam pelukan ibunya oleh seorang prajurit atas suruhan saudaranya Caracalla. Keduanya memang kerapkali terlibat pertengkaran dalam memperebutkan kekuasaan, setelah dinobatkan menjadi kaisar bersama setelah ayah mereka Kaisar Septimius Severus meninggal. Setelah pembunuhan saudaranya, Caracalla yang telah menjadi kaisar tunggal menerapkan praktik damnatio memoriae pada saudaranya dengan menghapus benda apapun yang terkait dengan saudaranya tersebut.

Apakah Praktik Ini Berhasil?

Publius Septimius Geta (Sumber: Wikipedia)

Dalam keberjalanannya, damnatio memoriae tidak sepenuhnya berhasil untuk menghapus sejarah individu yang menerima hukuman tersebut. Diantaranya kaisar yang menerima hukuman tersebut adalah tokoh yang terkenal dalam sejarah Romawi termasuk Caligula (12-41M) dan Nero (37-68 M).

Ketenaran beberapa tokoh tersebut tidak hanya melalui tulisan-tulisan yang dibuat pada masa mereka hidup atau setelahnya, tetapi juga dari gambar, patung hingga monumen tentang mereka yang terselamatkan dari praktik ini dan terabaikan secara berabad-abad.

Dalam kasus Caracalla dan Geta, meskipun upaya hukuman damnatio memoriae telah dilakukan Caracalla secara menyeluruh terhadap Geta. Namun, jutaan koin yang menggambarkan saudaranya yang telah beredar diseluruh kekiasaran menjadi hal yang tak bisa dia bendung. Selain itu dengan popularitas Geta di mata orang-orang Romawi yang cukup dikenal, membuat Caracalla terpaksa memberikan penghormatan dengan memakamkan saudaranya dengan upacara pemakaman yang besar.

Praktik yang Serupa

Ada beberapa kasus yang memiliki kesamaan dengan praktik damnatio memoriae seperti yang terjadi di Romawi. Di peradaban Yunani Kuno misalnya, Herostratos seorang pemuda dengan sengaja membakar kuil Artemis di Efesus (Turki saat ini) pada tahun 356 SM. Tindakan yang dilakukan Herostratos ini, dilatarbelakangi atas keinginannya untuk mencari ketenaran. Setelah membakar kuil tersebut, bukannya menyesal Herostratos malah membanggakan tindakannya. Demi mencegah munculnya orang seperti Herostratos lainnya, otoritas Yunani saat itu selain melakukan eksekusi juga melarang masyarakat untuk menyebut nama Herostratos dan jika melanggar ada ancaman hukumannya. Meskipun pada akhirnya, peraturan tersebut tidak menggagalkan tujuan dari Herostratos, setelah sejarawan Yunani yang bernama Strabo, menuliskan kembali kisah tentang Herostratos.

Baca Juga  Berdasarkan Data Statistik, Berikut Adalah 5 Jenderal Terhebat dalam Sejarah

Contoh lainnya di masa modern adalah tindakan Joseph Stalin saat menjadi pemimpin Uni Soviet dalam upayanya untuk menyingkirkan dan memburu lawan politiknya. Peristiwa ini dinamakan sebagai pembersihan besar-besaran (great purge) yang dimulai pada tahun 1934. Tindakan ini juga meliputi penghapusan jejak hidup lawan politik Stalin seperti, foto, buku, gambar dll. Sebagai balasannya, Nikita Khrushchev yang menggantikan Stalin sebagai pemimpin Uni Soviet, menghilangkan gambar Stalin dalam beberapa film dokumenter Uni Soviet. Dalam pidatonya tahun 1956, Khrushchev mencela Stalin sebagai seorang yang zalim dan brutal, terutama tindakan yang telah Stalin lakukan selama peristiwan pembersihan besar-besaran.

Share this article

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply